NetworkedBlog

Goggle Search

Custom Search

Donate Now

Asia Africa Mission Project encourages corporate partnerships and individual support, through giving donations , in an effort to further advance its mission of ensuring the health, education, equality and protection of every child and refugees. Asia Africa Mission Project is funded by voluntarily contributions from individuals, foundations, governments and the private sector. Your donation will help improve the lives of children and refugees across Indonesia, Asia, Africa, Europe and around the world. You can directly support Asia Africa Mission Project through ONLINE or the following bank accounts: Contributions in Indonesian Rupiah and US Dollars, To Donate ONLINE via PayPal, please click this and complete the form!

Insprasional Slogans

Quote Leadership

Our Vision

Reach All Nation/Alfian Palar Ministries Vision


"I looked and there before me was a great multitude that no one could count, from every nation, tribe, people and language, standing before the throne and in front of the Lamb." Rev. 8:9-12; "fire came down from heaven ... and the glory of the LORD filled the temple. The priests could not enter the temple of the LORD because the glory of the LORD filled it." 2 Chronicles 7:1-3; Rev. 15:8)

Mission

• Open Asia, Africa and around the world for the Gospel of Jesus Christ
• Building and Transforming the communities, cities, and nations
• Preparing and building excellent leaders who are ready to be used in the church, society, and the market place and governments.• Million souls for Christ
• Leaders among leaders• Nations under Jesus Christ

Value

 The Calling
o The Great Commission• Spreading the Gospel `till the end of the world
• Salt and Light of the worldo Harvesting the lost soulso Send the harvester to the missions field
o The Missions Journey (Short Term, Long Term, Road Trips)
 Community Service
o Works with the Local and National Governments
o Partnership with GO and NGO around the world
o Helping the refugees in Asia, Africa, and around the world
o Helping the children of war around this areao Building their education in Asia, Africa and around the world.
o Helping to build their life
 Empowering, Building and Developing Leaders
o Training, developing, and empowering the leaders for strategic leadership
o Leading on three area of leadership (Church, Market Place, and High Powerful People)
 Impact Nations
o Change nations with to a better life through the Word of God
o Speech in the Congress/Parlemen of the Nations for Christo United to bless the nations

The Statement of Faith
1. Jesus Christ is our Savior
2. Holy Spirit as a Comforter (Jhon14:16), Creator of the World and Gave a Breath of Life (Gen. 1:6; Paslm 33:6; 104:23), Who done the will of God in the earth ( Act 16:7; Gal. 4:6)
3. Strong in the Word of God ( Jhon 1:1)
4. Godly Life and Holiness Life
5. Be an open Letter of Christ
6. All things are possible with Jesus Christ
7. Mission is the heart beat of God
8. No compromise with sin ( Gal. 5:16-25)
9. Do the great thing for God all the time ( Jhon 14:12-14; Acts 5:12-16; 10. Works Like God, Works with God and Works for God (Jhon 5:16-23).

The Story
In the summer 2005, I went to East Java for attended in one leadership conference there. In the last meeting of this conference, God spoke to me, He gave me a vision. In that vision, “I saw a great multitudes stand in front of Jesus Christ. His hands lay to the crowds. And I kneel on the platform beside Jesus Christ, and He said: “Go and Saved! Bring them to the Son of Lamb. Shake the world with My glory, the Glory of God”. I just saw a great harvest who cant count there. A larger crowds, there is to much. A million, million, million, and million souls. Its really cannot count. They`re comes from every nations, cannot count.” So, I`ll fulfilled this to make a great impact to the world based by the vision.

After 2008, God make this vision become a real. On 21 November 2008, Nations for Christ has been launched. Nations for Christ is a non-organization profit. His founder, Alfian Palar started to fulfilled his destiny in Christ. The vision of our ministry is “Shaken the World with The Glory of God and Bring the Great Multitudes Who Cant Count From Every Nations and Every Tribes and Every Tongues Stand in Front of the Throne and The Son of Lamb ”. Our Mission is : Open Asia, Africa and around the world for the Gospel of Jesus Christ; Building and Transforming the communities, cities, and nations; Preparing and building excellent leaders who are ready to be used in the church, society, and the market place and governments; Million souls for Christ; Nations under Jesus Christ. Nations for Christ have four values, The Calling, Working with Community, Empowering and Developing Leaders, and Impact Nations.

Now, we started to reaching the lost with our project. The Project called “Asia Africa Mission Project”. The goal of this project is to help the people in Asia, Africa and around the world. Helping, empowering and building their nations, their life, their educations and their community. We also make difference with Healing Mission Crusade, Leadership Seminars, Mission Road, Evangelism with Power, Training and Sending missionary with Asia Africa Missionary. We encourage their faith in Jesus and help them all the souls to growth in the Word of God. Do all things impossible become possible with Jesus. Demonstrates the Signs, Wonder and Miracles by the power of God. Especially, bring them all, stand before the Throne and The Son of Lamb.

We have currently works in many nations, like Uganda, Kenya, Ghana, Pakistan, Phillipine, Thailand, Singepore, Malaya, Indonesia, etc. Our partners in these all nations, working together for fulfill the vision.

Reap The Harvest..10.000 souls on 2009

We dedicated this year as the moment of harvest. We praying for the revival on this year, we wanna to reap the harvest 10. 000 souls of unreach people group.

We know this not easy, but we know with Jesus Christ, impossible is nothing....

Come to join of this movement...

AP Mission

Thursday, October 8, 2009

Penilaian Yesus Tentang Pria

Penilaian Yesus tentang pria
Definisi masyarakat mengenai seorang pria sejati memang tidak tepat, dan persyaratan atau ciri pria sejati begitu berat sehingga banyak yang kesulitan untuk mewujudkannya. Ia tahu dalam hatinya bahwa ia tidak mampu memenuhi semua tuntutan yang berat ini. Karena itu kini saatnya untuk menggali kembali pertanyaan “pria sejati itu seperti apa?”
Yesus memberi jawaban yang tegas dan jelas. “Perhatikan! Jika kamu ingin melihat seorang pria sejati, lihatlah Yohanes Pembaptis. Karena, di antara mereka yang dilahirkan oleh wanita, tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes”. Yohanes memiliki enam ciri yang menjadikannya seorang pria sejati: ketulusan hati, kesederhanaan, pendirian, keberanian, visi, dan kerentanan. Mari kita lihat ciri-ciri yang mengagumkan ini dari dekat.

Ketulusan hati
Ketulusan hati Yohanes ditunjukkan oleh orang-orang yang datang mendengarkan khotbahnya. Ketika ia berbicara, orang-orang mendengarkannya. Mereka menyadari kata-katanya begitu penting sehingga rela meninggalkan pekerjaan yang sedang mereka lakukan dan pergi untuk mendengarkan khotbahnya. Mereka tertarik dengan suara kebenaran dan ketulusan hatinya.
Raja Herodes, yang bertanggung jawab atas kematian Yohanes, menyuruh memanggil Pembaptis meskipun ia dipenjarakan. Ia suka mendengarkan khotbah Yohanes. Dan, meskipun ia tidak begitu baik dalam menerapkan ajaran Yohanes, ia penasaran untuk mendengarkannya langsung ajarannya. Mengapa? Sebab Herodes mengakui Yohanes sebagai pria yang memiliki integritas.
Murid-murid Yohanes juga menunjukkan bukti ketulusan hati Yohanes. Meskipun saat ia dipenjarakan, mendorong murid-muridnya untuk meninggalkan dia dan mengikut Yesus, kita tahu bahwa murid-murid masih mengunjungi Yohanes secara rutin. Mereka terus dekat dengannya dan tetap menaruh perhatian padanya serta mempedulikannya. Mengapa? Karena ia menunjukkan ketulusan hati yang begitu nyata.

Kesederhanaan
Kita mengetahui kesederhanaan Yohanes melalui gaya hidupnya yang disiplin. Ia memakan belalang dan madu hutan, dan memakai pakaian dari bulu unta dan ikat pinggang dari tali. Dan ia tinggal di padang belantara. Saya tidak menganjurkan anda harus melakukan hal yang sama untuk menjadi seorang pria sejati. Tetapi saya katakan bahwa hidup Yohanes disiplin. Dia adalah seorang pria pendoa; pria yang berpuasa; pria yang sederhana. Dan seperti Yesus, ia tidak menghiraukan pakaian yang indah dan kemewahan hidup. Jalan hidupnya yang sederhana ditunjukkan oleh gaya hidupnya –sesuatu yang perlu dicontoh di jaman yang didominasi kekayaan dan pemborosan.
Kesederhanaan hidup Yohanes juga terlihat melalui pesannya yang terus-terang. Ia menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan memperingatkan orang-orang untuk tidak menyia-nyiakan waktu mereka dengan apa pun sehingga mereka siap untuk kedatangan Kerajaan Allah. Bukankah anda suka yang sederhana, yang bicara langsung kepada orang-orang tanpa embel-embel dan omong kosong dan langsung membicarakan isu-isu yang terpenting? Dunia memerlukan pria yang bisa berkata, “Dengarkanlah saudara-saudara, kalian harus bersiap-siap! Kerajaan Allah sudah dekat!”
Kesederhanaan pesan Yohanes ditunjukkan lebih lanjut dengan cara Yohanes menunjuk Yesus sebagai raja. Ia mengatakan terus-terang: “Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa, membuka kasutNyapun aku tidak layak”. Bukan saya yang penting, tetapi Dialah yang terpenting”. Ia memahami bahwa kerajaanNya yang terpenting, dengan tegas menyatakan kemuliaan Sang Raja. Ia mengajarkan kebenaran ini kepada orang-orang dan berseru kepada mereka agar bertobat, mengakui kesalahan, dan tidak melakukan dosa lagi. Orang-orang yang bertobat diharapkan menunjukkan perubahan dalam kehidupan mereka dengan sikap yang benar-benar berbeda terhadap Tuhan dan kehidupannya sendiri. Sikap Yohanes sederhana, dan terus-terang.

Pendirian
Ciri lain yang dimiliki Yohanes adalah pendiriannya yang kokoh mengenai hal-hal yang ia yakini. Ini terutama terbukti dalam empat hal. Pertama, ada realitas. Simbolisme merupakan hal yang umum dalam masyarakat pada masa Yohanes hidup. Namanya menunjukkan simbol dan reputasinya. Ia bukan Yohanes anggota gereja Episkopal atau Yohanes anggota gereja Metod¬is – tetapi Yohanes Pembaptis. Ketika ia menyuruh orang-orang untuk mengakui dosa mereka dan bertobat, ia menuntut mereka menunjukkan bukti pertobatannya. Salah satu caranya dengan dibaptis secara simbolis dalam air. “Tetapi,” Yohanes berkata, “Jangan salah sangka. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku akan membaptiskan kamu dengan api dan dengan Roh Kudus.” Ia menyatakan bahwa tindakan simbolis kita itu bukan yang utama. Pokok pertobatan adalah sikap hati – itulah yang nyata.
Kedua, Yohanes memiliki pendirian yang kokoh tentang kemunafikan. Ia menantang kaum Farisi dan Saduki serta orang-orang munafik lainnya yang datang kepadanya: “Hai kamu keturunan ular beludak, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Itulah pria sejati, menurut Yesus. Ia benar-benar mengatakan secara terang-terangan kepada mereka karena ia mengetahui kemunafikan, kepura-puraan, dan perhatian mereka yang berlebihan tentang hal-hal yang di luar. Karena pendirian yang kuat, ia menegur sikap mereka yang menunjukkan tidak adanya pertobatan, pengakuan atas dosa mereka, dan perubahan yang sungguh-sungguh dalam kehidupan mereka.
Ketiga, Yohanes memiliki pendirian yang kokoh tentang integritas. Yesus sendiri memperhatikan hal ini. Sesungguhnya Ia katakan, “Hai kamu sekalian yang pergi ke Sungai Yordan atau ke padang belantara untuk melihat Yohanes Pembaptis dan mendengarkan khotbahnya, apa yang kamu harapkan? Melihat buluh yang digoyangkan oleh angin pendapat ini dan itu? Seseorang yang tidak akan mengusik air atau mengguncang perahu? atau apakah kamu pergi untuk melihat orang yang berpakaian indah, yang hidup mewah, dan tempatnya di istana raja? Itukah yang ingin kamu lihat? Kamu terkejut, bukan? Karena Yohanes tidak menghiraukan pakaian yang indah, dan ia bukan buluh yang digoyangkan angin ke sana kemari. Sebaliknya, kamu mendapati sikap hidup Yohanes yang berkomitmen terhadap integritas, keadilan, dan kebenaran – kualitas seorang pria sejati.”
Keempat, pendirian Yohanes tentang kesucian. Mungkin cara terbaik untuk menggambarkan hal ini adalah mengingat kembali interaksi Yohanes dengan Raja Herodes dan istrinya, Herodias. Kekuasaan Herodes dibuktikan oleh kejadian yang membuat Yohanes mati karena dipenggal kepalanya. Suatu hari Yohanes berbicara kepada Herodes saat istrinya hadir, dan apa yang harus ia katakan itu tidak berkenan di hati Herodias.
Yohanes berkata, “Raja Herodes, tidak halal engkau menikahi Herodias. Herodias adalah istri saudaramu Filipus, namun engkau dan Herodias pergi ke Roma dan berselingkuh. Engkau menghancurkan rumah tangga saudaramu, bercerai, dan kemudian melakukan pernikahan baru yang tidak patut ini. Hal ini tidak benar, dan sebab itu saya mengatakannya terus terang di hadapanmu.”
Yohanes benar-benar yakin bahwa gaya hidup Herodes dan sensualitas istananya keliru – dan ia mendukung pendiriannya dengan keberanian. Moralitas dan kesucian merupakan hal yang penting bagi Yohanes. Ia tetap teguh dan berani mengatakannya dengan lantang. Ini menunjukkan satu lagi ciri kepribadian Yohanes.

Keberanian
Karena Yohanes memiliki pendirian yang kokoh tentang realitas, kemunafikan, integritas, dan kesucian, ia berbicara dengan tegas menentang tindakan Herodes dan Herodias yang tidak bermoral. Ia membiarkan pendiriannya memandu tindakan-tindakannya, dan ia berani menentang kejahatan dan orang yang berbuat kejahatan. Sikapnya: Ada hal yang baik dan ada hal yang jahat; yang jahat harus disingkapkan dan yang baik ditingkatkan. Martin Luther, Bapak Reformasi juga bertindak dengan sikap yang sama, membiarkan pendiriannya memandu tindakan-tindakannya. Lima belas abad setelah jaman Yohanes Pembaptis, Luther berkata, “Inilah pendirian saya, saya tidak bisa punya pendirian lain”. Keberanian diperlukan untuk melawan kejahatan yang muncul di mana saja, apakah di tempat kerja, dunia bisnis, atau pernikahan – keberanian untuk melawan kejahatan dalam diri anak-anak kita, kalangan sosial kita, dan di antara teman-teman kita. Tetapi itulah yang dilakukan oleh pria sejati, menurut Yesus.
Karena keberanian dan pendiriannya, Yohanes berani melawan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang terpandang. Tetapi ia juga spesifik menyatakan apa yang benar. Kebenaran merupakan satu hal untuk mengalahkan kejahatan. Mengalahkan kejahatan memang penting, tetapi lebih sulit lagi jika harus sekaligus menyatakan apa yang baik. Yohanes benar-benar memiliki komitmen untuk mengajarkan kebenaran. Dan ia bisa mencerna ajaran-ajaran ini dan menerapkannya dalam masyarakat pada jamannya.

Visi
Ciri kelima yang mencirikan Yohanes sebagai seorang pria sejati adalah visinya. Pada waktu berbicara tentang Yohanes, Yesus bertanya, “Waktu kamu pergi menjumpai Yohanes Pembaptis di padang gurun, apa yang kamu harapkan? Melihat buluh yang digoyangkan angin atau orang yang berpakaian indah? Tidak,” kataNya lagi, “yang kamu lihat adalah seorang nabi. Dan itulah yang kamu lihat – seorang nabi.”
Apa artinya nabi? Pada jaman Yesus seorang nabi juga disebut seorang penubuat– seseorang yang bisa melihat kejadian yang akan datang. Orang ini bisa melihat masa lampau, masa kini hingga masa depan. Yohanes menerima perspektif dari Tuhan sendiri dan mampu melihat arti di balik berbagai kejadian. Sayangnya, karena kita begitu terjerat dengan kebiasaan yang selalu ingin mendapatkan segala sesuatu secara instan, budaya masyarakat modern ini sering membuat kita tidak menyadari konsekuensi-konsekuensi dari apa yang kita lakukan. Kita hanya tertarik dengan solusi yang cepat untuk masalah saat ini. Itulah sebabnya bisnis kosmetika selalu laris. Sepanjang kita kelihatan baik, kita kemungkinan merasa senang dengan diri kita sendiri; hal-hal lain tidak menjadi perhatian kita.
Karena itu kita perlu mengembangkan kemampuan untuk melihat berbagai konsekuensi tindakan-tindakan kita – dari perspektif masa lalu, kini dan masa depan. Kita memerlukan hal ini bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga supaya bisa menolong orang lain melihat konsekuensi-konsekuensi tindakan-tindakan mereka dari perspektif kekekalan. Kita perlu melihat segala sesuatu dari mata Dia yang duduk di atas takhta di sorga. Kita bukan hanya memikirkan hal-hal yang terkait dengan “saat ini”; kita juga perlu memikirkan “masa depan”.
Seorang penubuat memiliki visi tentang segala kemungkinan di masa depan. Ia memandang situasi sekarang dan mencoba mengerti bagaimana Tuhan bisa dipermuliakan melaluinya; Ia melihat keadaan lahiriah seseorang di masa lalu untuk menemukan apa sebenarnya yang menggerakkan mereka. Penubuat adalah manusia sungguh-sungguh, orang yang diberi talenta yang kita butuhkan dalam keluarga, rumah, tempat kerja, dan masyarakat kita.
Sayangnya, kita sudah terjerat dalam kebohongan. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan apakah saya kelihatan atau merasa baik, tetapi apakah saya baik. Penubuat sejati dapat melihat jauh lebih dalam daripada sekedar penampilan yang baik; ia bisa menembus dan mengetahui apa yang ada di hati; dan ia bisa memusatkan pikiran pada hal-hal yang menentukan apakah kita ini baik atau jahat. Inilah visi Yohanes Pembaptis, dan ini harus menjadi visi semua orang yang menyatakan dirinya sebagai seorang pria sejati.

Kerentanan
Kerentanan Yohanes tampak jelas selama pengalaman nyata hidupnya – ia dipenjarakan setelah berterus terang menegur Herodes dan Herodias. Sambil mendekam di dalam selnya, murid-muridnya tetap mengunjungi dia dan membawa berita tentang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Kemudian ia mulai meragukan panggilannya dan apakah yang ia lakukan salah. Sehingga ia meminta muridnya, “Maukah kamu pergi kepada Yesus mengajukan pertanyaanku kepadanya? Maukah kamu menanyakan kepadanya apakah ia benar-benar Mesias? Apakah benar dia yang sedang kita nantikan, atau apakah kita terus menantikan orang lain?”
Kejadian ini sangat menolong kita untuk menyelami pikiran Yohanes Pembaptis. Dalam keraguannya itu, kita bisa melihat kerentanannya.
Menurut hasil penelitian, ada lima pernyataan yang paling sulit dikatakan oleh pria modern adalah: (1) Saya tidak tahu; (2) Saya salah; (3) Saya perlu bantuan; (4) Saya takut; dan (5) Maafkan saya. Dengan kata lain, menurut definisi dunia, pria sejati sulit mengakui kerentanannya. Dan jika mereka mengakuinya, maka maskulinitas mereka dipertanyakan. Tetapi Yohanes tidak takut untuk mengakui kerentanannya.
Mari kita lihat contoh kejadian ini. Seorang wanita sedang naik mobil bersama suaminya dan ia merasa suaminya salah jalan. Jadi ia memberitahu suaminya. Ia tahu suaminya sensitif mengenai hal ini, sehingga ia berusaha menyampaikannya secara diplomatis, dengan mengatakan seperti berikut, “Sayang, kayaknya kamu tahu jalan yang lebih baik, yang rutenya belum dicantumkan di peta.”
Bagaimana sang suami menanggapi hal ini?
“Tidak”, jawab sang suami, “Saya tahu mau ke mana”. “Tiga puluh, empat puluh, atau lima puluh kilometer kemudian, ia melihat sedikit kejanggalan mengapa matahari terbenam di sebelah utara! Sekarang ia yakin istrinya benar, bahwa ia tersesat. Ia mengatakan, “Sayang, saya tidak tahu kita ada di mana. Saya benar-benar salah jalan. Ketika kamu bilang saya salah jalan dan saya bilang “tentu saja tidak”, kamu benar! Sebenarnya, saya perlu bantuanmu.”
Tetapi “pria sejati” kemungkinan besar akan berkata, “Peta ini bodoh. Benar-benar tidak bisa diandalkan lagi.” Atau, “Anak-anak nakal itu mengacau lagi. Mereka menukar semua tanda-tanda jalan di sekitar sini.” Kemudian istrinya berkata, “Kalau begitu, kita harus ke tempat pom bensin dan menanyakan arah yang benar, bagaimana?”
“Pria sejati’ kita kemungkinan akan menjawab: “Kenapa kita harus pergi ke sana dan bertanya? Saya bisa mengatasinya sendiri. Memangnya penjual bensin bodoh itu tahu? Kalau dia pintar, pasti tidak akan jadi penjual bensin!”
Mengapa kejadian seperti ini terjadi? Menurut saya, budaya kita telah membentuk pria dengan cermat untuk tidak menjadi rentan. Kita diajar untuk menyembunyikan perasaan kita, bukannya mengakui siapa kita sebenarnya, dan tidak jujur terhadap diri sendiri. Kita bisa menertawakan kejadian seperti contoh di atas, tetapi saya yakin bahwa faktor yang mempengaruhi banyak penyakit sosial kita adalah konsep yang salah mengenai bagaimana pria sejati itu. Seorang pria sejati menunjukkan ketulusan hati dan kesederhanaan, keberanian dan pendirian, visi dan kerentanan. Ia bisa bertatapan langsung dengan orang lain dan berkata: “Saya tidak tahu.” “Mungkin saya salah.” “Saya takut.” “Saya butuh bantuan.” Itulah sifat yang mau mengakui kerentanannya!
Ada perbedaan yang nyata sikap jujur, rendah hati mengakui kerentanan dengan pandangan modern tentang kerentanan. Saya tidak sedang membicarakan tentang seseorang yang sedang mencari-cari kedalaman jiwanya dan ketagihan dengan metode terapi untuk terus menyelidiki perasaan mereka. Saya juga tidak sedang membahas kerentanan yang menjadikan pria sebagai korban. Tentu banyak pria yang menjadi korban dan juga penyebab timbulnya korban; tetapi sekali pikiran kita telah mendikte bahwa kita adalah korban, hampir mustahil bagi siapa pun, pria atau wanita, untuk melihat diri mereka sendiri secara obyektif sebagai ciptaan yang dikasihi Tuhan, tetapi sebagai orang berdosa yang harus menghadapi siapa mereka sebenarnya dalam pandangan Tuhan.
Kerentanan Yohanes Pembaptis ditunjukkan melalui dua cara – kejujuran dan kerendahan hatinya. Kerendahan hatinya luar biasa. Salah satu pernyataannya yang terkenal mengenai Yesus adalah: “Ia harus makin besar; tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30). Apakah anda ingat situasi saat itu? Yohanes adalah seorang nabi, dan orang banyak sedang berduyun-duyun ingin mendengarkannya. Kemudian ada orang bertanya kepadanya, “Tidakkah engkau sadar bahwa banyak orang berbondong-bondong pergi melihat Yesus?"
Jawabnya, “Tentu, saya mengetahuinya. Saya sendiri menyuruh beberapa orang pergi kepadaNya, karena saya harus semakin berkurang dan dia harus semakin bertambah.”
Sama sekali tidak ada kepalsuan tentang kerendahan hati Yohanes – benar-benar tulus. Ia mengerti siapa dia sebenarnya dibandingkan dengan Yesus. Seorang pria yang rendah hati tidak takut untuk mengakui siapa dirinya. Pria seperti ini secara terus-terang mengakui, “saya harus semakin berkurang. Dia harus semakin bertambah.”
Ada beberapa simbol yang menggambarkan hubungan antara Yesus dan Yohanes Pembaptis. Yesus adalah Terang; Yohanes Pembaptis adalah lampunya. Yohanes adalah perantara yang melaluinya Yesus melakukan pekerjaannya. Pada suatu ketika, Yohanes berkata kepada murid-muridnya ketika Yesus sedang lewat, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yoh. 1:29). Yesus adalah Jalan; Yohanes Pembaptis adalah rambu-rambu jalannya. Yesus adalah Pesan; Yohanes adalah pembawa pesan. Yesus adalah Firman; Yohanes adalah suaranya.
Yohanes tidak suka membicarakan tentang dirinya sendiri. Perhatiannya lebih pada memahami dirinya sendiri dari sudut pandang siapa Yesus Kristus itu. Ketika kita sampai pada pemahaman tentang siapa kita dibandingkan dengan Yesus Kristus, tidak terlalu sulit bagi kita untuk bersikap rendah hati.
Clement Atlee, salah seorang musuh terbesar Winston Churchill (perdana menteri Inggris dalam Perang Dunia II), jarang mendengar pujian dari Churchill. Tetapi pada suatu ketika, membuat semua orang kagum, Churchill berkata: “Atlee adalah seorang pria yang sangat rendah hati.” Dan ia menambahkan, “Tentu saja, banyak hal yang membuatnya harus rendah hati.”
Ketika kita membandingkan diri kita sendiri dengan Yesus, banyak hal dalam hidup kita yang seharusnya membuat kita rendah hati. Dan kerendahan hati ini seharusnya tidak tidak mengejutkan kita. Sayangnya, kerendahan hati kita umumnya hanya ada di permukaan saja, karena untuk menjadi rendah hati, kita harus mengakui kerentanan kita.
Kerentanan Yohanes juga tercermin dalam kejujurannya. Ia jujur dengan keraguannya ketika ia mendekam dalam selnya di penjara. Mengapa ia ingin tahu apakah Yesus benar-benar Mesias? Ia pasti berpikir, Jika Yesus adalah Mesias, kenapa Yesus tidak mengeluarkannya dari penjara? Bukankah Mesias seharusnya melepaskan mereka yang dipenjarakan? Yohanes jujur dengan keraguan dan kekhawatirannya.
Pria yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan siapa pun – jenis hubungan memberi kesempatan baginya untuk jujur dan tulus dengan orang lain. Mengapa ini terjadi? Karena untuk membangun hubungan pribadi seperti itu diperlukan tingkat kejujuran dan kerentanan tertentu yang tidak dimiliki banyak pria.
Saat ini kita mengikuti idola, seperti Lee Iacocca, pemenang penghargaan Heisman yang terakhir, atau aktor-aktor atau penyanyi rock. Mereka mungkin memiliki kualitas hidup yang membuat kita kagum. Namun, kita tidak salah jika kita memilih suatu teladan yang disetujui oleh Yesus: Yohanes Pembaptis. Yesus berkata di antara manusia lainnya, tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes.
Suatu ungkapan yang mengandung teka-teki menyimpulkan pernyataan Yesus tentang Yohanes. “Di antara mereka yang dilahirkan oleh wanita tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes; namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya” (Luk. 7:28). Bahkan “yang terkecil dalam Kerajaan Allah” masih lebih besar dari padanya? Apa maksud perkataan Yesus ini? Di sini tampaknya Yesus ingin mengatakan “Lihat semua kualitas tentang pria dan ingat bahwa semuanya ini bukan yang utama. Sasaran utamanya adalah untuk memastikan anda merupakan bagian dari kerajaan”. Seseorang bisa saja menunjukkan semua ciri-ciri kejantanan yang paling hebat di dunia tetapi kehilangan kerajaan. Seorang pria sejati adalah bagian dari kerajaan dan mengakui Rajanya. Ia datang untuk bertobat, mau mengakui dosanya, dan membuktikan realitas pertobatannya melalui perubahan gaya hidupnya. Selain itu, ia mulai menunjukkan ciri-ciri pria sejati. Orang seperti itulah yang sedang kita cari.
Jika kita harus mengidentifikasi seorang pria sejati yang dijadikan teladan, siapakah pria itu? dan ciri-ciri dari orang yang menjadi teladan ini kita apa? Apakah kita melihat kualitas-kualitas ini bertumbuh dalam kehidupan kita sendiri? Akhirnya, jika definisi kita tentang pria sejati bukan seperti yang dikatakan oleh Yesus dan yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis, dari mana kita ciri-ciri pria sejati itu asalnya? dan sejauh mana ide-ide tersebut benar? Apa makna pria sejati? Jawabannya bisa kita lihat dalam kehidupan Yohanes Pembaptis.

Makna Pria Sejati

Makna Pria Sejati

Charles Haddon Spurgeon pernah berkata, “Seorang Kristen adalah manusia yang paling lemah lembut di antara para pria, tetapi ia tetaplah pria.” Kalimat ini kedengarannya sombong sekali. Tetapi untuk memahaminya, kita perlu menjawab pertanyaan “Apa sih pria sejati itu?” dan tempat yang paling baik untuk mencari jawabannya adalah di antara orang-orang yang menerima pujian dari Yesus. Menurut pendapat Yesus, Yohanes Pembaptis adalah yang “terbesar”: “Aku berkata kepadamu, di antara mereka yang dilahirkan oleh wanita tidak ada seorang pun yang lebih besar daripada Yohanes” (Lukas 7:28). Pertama kita akan mencari tahu bagaimana masyarakat menilai seorang pria, kemudian melihat secara detail penilaian Yesus terhadap Yohanes.

I. Penilaian masyarakat terhadap seorang pria
Dalam masyarakat kita masih tidak jelas apa saja kriteria pria sejati. Beberapa tahun yang lalu, buku berjudul The 49% Majority: The Male Sex Role diterbitkan. Judul buku ini merujuk pada kenyataan bahwa meskipun jumlah penduduk yang berjenis kelamin pria sekitar 49%, kelihatannya mereka jauh lebih banyak karena masyarakat kita didominasi oleh pria. Dua orang penulis, Deborah S. David dan Robert Brannon, menjelaskan empat tema yang tampaknya dijadikan dasar konsep umum tentang kejantanan. Mari kita lihat satu persatu “nilai-nilai seorang pria” yang dimaksudkan kedua penulis itu.

Tidak banci
Jika anda ingin jadi seorang pria sejati, anda tidak makan makanan yang dimakan wanita atau melakukan hal-hal yang berkaitan dengan wanita, seperti menyulam. Seorang pria sejati tidak tertarik dengan topik perbincangan wanita atau menikmati hal-hal yang berkaitan dengan wanita. Banyak ahli sosiologi berpendapat bahwa sikap ini berkaitan dengan kekhawatiran yang tidak terungkap terhadap homoseksual. Sehingga yang dinilai sebagai pria sejati adalah mereka yang tidak pernah tertarik dengan tingkah laku yang dipandang sebagai banci.

Sindrom roda besar
Ciri kedua pria sejati adalah kemampuannya untuk memegang kendali. Mereka menolak bantuan apa pun, dan tidak menghiraukan nasihat orang lain. Ia memandang dirinya sendiri sebagai orang yang berhasil, dan buktinya terlihat di mana-mana. Pria ini berharap setiap orang mengakui dirinya sebagai sebuah roda besar.

Sindrom pohon yang kokoh
Ciri yang ketiga ini berkaitan erat dengan sindrom roda besar. Sindrom ini menyatakan bahwa pria sejati setiap saat tangguh, percaya diri, bisa melakukan segala sesuatu sendiri dan mampu berdiri teguh. Dia membiarkan setiap orang lain bersandar padanya karena dialah satu-satunya yang tidak akan goyah dalam situasi apa pun.

Selalu bersaing
Ciri yang keempat menyatakan bahwa seorang pria sejati harus bersikap agresif, berani, dan bahkan kadang keras. Ia benar-benar penuh rasa persaingan dan mampu membuat sesuatu terjadi.

Jadi, jika kita ingin menjelaskan penilaian masyarakat kita mengenai seorang pria sejati, kita mungkin akan memperoleh kesimpulan yang sama seperti David dan Brannon dalam buku mereka. Namun, ada masalah dengan ciri-ciri atau kriteria tersebut. Walaupun pria sejati dinilai dari sindrom roda besar dan pohon yang kokoh, ternyata kaum pria meninggal tetap pada usia yang lebih muda daripada kaum wanita. Kaum pria melakukan 90% semua kejahatan besar dan 99,9% bertanggung jawab atas semua peristiwa perkosaan dan 95% peristiwa pencurian. Sembilan puluh empat persen sopir yang mabuk adalah pria. Mereka juga melakukan 70% tindakan bunuh diri dan 91% kekerasan dalam keluarga. Kesimpulan apa yang bisa kita peroleh dari bukti ini? Jelas bahwa, pria tidak memegang kendali seperti yang dikatakan. Tidak semuanya berjalan mulus dengan “pria sejati” ini.” Saya ingin tahu, apa sebabnya?

Memang terjadi perubahan dalam setengah dekade terakhir ini. Selama tahun 1980-an pria, kadang sebagai tanggapan atas kritik terang-terangan dari wanita umumnya dan kaum feminis khususnya, berupaya untuk berhubungan dengan “sisi feminin” mereka, sementara pada tahun 1990-an Iron John memimpin beberapa pria memasuki hutan untuk menguji keberanian dalam upaya menemukan kejantanan mereka. Bahkan belakangan ini, fenomena yang luar biasa dari kelompok Promise Keeper - Pemegang Janji - menunjukkan bahwa banyak pria modern sedang mencari arti yang lebih dalam dari maskulinitas dalam hal hubungan dengan orang lain. Hanya waktu saja yang akan menunjukkan sejauh mana kejiwaan pria tersentuh diraih dan diubah, tetapi satu hal yang pasti: Perubahan ke arah yang benar, yang akan segera kita bahas, seharusnya sudah lama berlangsung.

Monday, October 5, 2009

PENGANTAR KE DALAM ETIKA KRISTEN - Part I

PENGANTAR KE DALAM
ETIKA KRISTEN

1. Tentang Nama Etika
Kata Etika asalnya dari beberapa kata Yunani yang hampir sama bunyinya, yaitu ethos dan e’thos atau ta ethika dan ta e’thika. Kata ethos artinya kebiasaan, adapt. Kata e’thos dan e’thikos lebih berarti kesusilaan, perasaan batin, atau kecenderungan hati dengan mana seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan.
Dalam bahasa Lat itu disebutkan dengan kata “mos”, dan “moralitas”. Oleh sebab itu, kata ”etika” sering pula diterangkan dengan kata ”moral”.
Apa yang dimaaksudkan deangan Etika dinyatakan dalam bahasa Indonesia oleh dengan tepat kata kesusilaan. Kaata ”sila” yang terdapat dalam bahasa sansekerta dan kesusteraan Pali dalam kebudayaan Buddha, mempunyai banyak arti. Pertama Sila berarti: norma (kaidah), peraturan hidup, perintah. Kedua, kata itu menyatakan pula keadaan batin terhadap peraturan hidup, hingga dapat berati juga: sikap, keadaan, siasat batin, perilakuan, sopan-santun dan sebagainya. Kata Su berarti: baik, bagus.

2. Pengertian Etika Teologis
Etika bergerak pada lapangan kesusilaan, artinya ia bertalian dengan norma-norma yang seharusnya berlaku disitu dan dengan ketaatan batiniah pada norma-norma itu.
Etika, bukanlah ilmu pengetahuan alam. Karena itu Etika bukanlah ilmu pengetahuan yang bersifat deskriptif, yang hanya menerangkan dan menguraikan tindakan dan kelakuan manusia, seperti halnya dengan ilmu bangsa-bangsa (antropologi cultural), yang menguraikan dan membahas adapt-istiadat dan keadaan bangsa-bangsa.

3. Kedudukan Etika dalam Ilmu Teologia
Etika di uraikan dalam pelajaran teologi, setelah pengajaran tentang iman, yang di jelaskan dalam dogmatika. Dogmatika adalah suatu teologi yang memikirkan tentang isi iman, kasih allah bapa, anugrah Allah Anak daan persekutuan dengan Roh kudus. Demikian pula dengan etika kristen sebab etika kristenpun memikirkan tentang kehendak Allah yang sudah di nyatakan, hukum-hukum taurot Allah, pendamai, pembebas, hukum-hukum Allah bapa, Allah Anak, dan roh kudus, dan etika kristen memikirkan tentang ketaatan yang di bangkitkan oleh roh kudus.
Dogmatika menguraikan penyataan Allah di dalam Yesus Kristus dengan kesadaran iman, sedangkan etika menguraikan bagaiman penyataan Allah dalam kristus itu di nyatakan di dalam anak-anak Allah di segenap lapangan hidup, sebagaiman di selenggarakan oleh Roh kudus. Ethika teologis dapat di jadikan sebagai mata pelajaran khusus, melihat begitu sulit, rumit dan kompleksnya susunan masyarakat yang ada. karena itu pentingnya etika kristen dalam kehidupan ini.

4. Dapat Etika Teologis dipelajari sebagai mata pelajaran khusus?
Ada beberapa alasan praktis mengapa Etka lebih baik dipelajari sebagai ilmu yang khusus. Di dalam abad-abad yang terakhir ini susunan masyarakat makin kompleks, rumit dam sulit. Jika kita meninjau berbagai lapangan pekerjaan, lapangan kebudayaan, masyarakat, negara, dunia international dan sebagainya, maka di dalam lapangan-lapangan ini kita menemukan suatu timbunan masalah-maslah yang rumit, yg perlu kita sadari secara etis.

5. Mungkinkah diusahakan suatu Etika Teologis yang sistematis?
Etika sistematis dapat dan boleh bertindak sebagai penunjuk jalan di dalam keseluruhan dan bagian-bagian yang dinyatakan oleh alkitab kepada kita mengenai allah. Hal itu diperlukan oleh gereja Kristen. Sebagaimana gereja Kristen memerlukan suatu bimbingan dogmatis untuk membantunya di dalam menjawab firman tuhan dengan kepercayaan, demikian pula gereja memerlukan suatu etika sistematis untuk membantu orang-orang beriman dalam mengambil keputusan di hadirat Tuhan. Bahkan dapat dikatakan bahwa di dalam, hal itu perlu sekali. Dimana tidak terdapat Etika sistematis yang berdasarkan alkitab, di situlah orang beriman di dalam praktik kerap kali menjadi korban pikiran-pikiran yang tidak tetap dan pendapat-pendapat perseorangan.

6. Sumber pengetahuan tentang Etika Teologis
Sumber yang mutlak dari pengetahuan tentang Etika Teologis hanyalah satu, yakni Alkitab. Masalah mengenai apa yang baik, demikin dituliskan oleh Boenhoefer dengan tepat, adalah masalah mengenai Yesus Kristus. Dan masalah mengenai Yesus Kristus ialah masalah mengenai Alkitab. Allah menyatakan janji dan tuntutan-tuntutan-Nya di dalam Jesus Kristus.

7. Hubungan antara Etika Kristen teologis dan Etika di dalam agama-agama lainnya
Di dalam masyaralkat Indonesia, di mana gereja Kristen hidup dan bekerja, adanya pengaruh-pengaruh moral Hindu dan Budha tidak dapat disangkal lagi. Walaupun Indonesia tidak banyak terdapat pengaut-penganut agama hindudan Budha yang sadar, namun pengaruh-pengaruh Hindu dan Budha itu masih ada bekas-bekasnya, justru di dalam sikap, hidup dan perilakuan.
Disamping itu juga ada pengaruh dari moral islam sebagaimana terdapat dalam tasawuf Islam dan Fiqh Akhlak Islam.

8. Hubungan antara Etika Teologis dan Etika falsafi
Di dalam sejarah Etika teologis kerapkali terdapat titik-titik pertemuan antara Etika Falsafi dan Etika Teologis. Pernah terjadi bahwa etika teologis dikalahkan sama sekali atau sebagian oleh Etika Falsafi. Hal ini terjadi, misalnya ketika filsafat Aristoteles dipergunakan segbagai titik pangkal di dalam teologi dan filsafat Thomas Aquino. Demikian juga, ketika teologi Jerman sebagian besar berada dibawah pengaruh filsafat Kant.
Kedua kejadian itu merugikan Etika teologis. Memang tidak mudah menerangkan dengan singkat beberapa pokok mengenai hubungan antara Etika Falsafi dan Etika Teologis. Sebab lapangan Etika falsafi sangat luas dan penuh dengan aliran-aliran yang bertentangan.
Prof Dr. W Banning dalam bukunya Typen van zedeleer, telah menjelaskan dengan terang macam-macam Etika Falsafi itu. Diterangkannya:
1. Etika Metafisika
2. Etika yang didarkan pada individu
3. Etika yang didsarkan pada masyarakat.
4. Etika Nilai-nilai
Antara Etika falsafi dan etika Teologi selalu ada ketegangan. Sifat-sifat theonom dan heterenom. Sumber pengetahuan tentang baik-buruk tidak boleh lain daripada apa yang dianugerahkan Allah kepada kita di dalam Alkitab. Tujuan hidup tidak boleh dicari di luar tujuan yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk kita, seperti firmanNya: ”Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga sempurna” (Mat. 5:48).

9. Hubungan antara Etika dan ilmu pengetahuan lainnya
Etika kristen mempunyai segi-segi yang menyinggung bermacam-macam ilmu pengetahuan lainnya. Pertama dengan etnologi atau antropologi kultural dan sosiologi.
Etika menyelidiki perbuatan-perbuatan manusia dan norma-norma perbuatan-perbuatan itu.
Etika kristen juga banyak mengalami persinggungan dengan dua ilmu pengetahuan lainnya, yakni Ilmu jiwa dan Ilmu Mendidik 9Psikologi dan pedagogik).

10. Pembagian Etika
Pembagian bahan-bahan Etika dilakukan menurut berbagai cara. Werner Elert dan Karl Barth membagi-bagi bahan ini secara Trinitas, dan diuraikannya tentang perintah-perintah Pencipta, Pendamai dan pembebas, Bapa, Anak dan Roh Kudus. Keberatan terhadap pembagian ini ialah bahwa kerapkali timbul pengulangan-pengulangan.
Kebanyakan buku-buku etika mengadaka pembagian seperti berikut: ajaran tentang nilai-nilai kesusilaan, ajaran tentang kaebajikan Kristen dan ajaran tentang kewajiban-kewajiban kristen. Keberatannya disini, ialah karena pembagian ini bercorak falsafi dan bukan teologis.
Buku-buku lain membagi-bagi bahannya bahannya diatas; etika individual dan Etika Sosial. Keberatan-keberatan terhadap pembagian besar ini sekali : Semua Etika bercorak sosial. Manusia selalu hidup menurut cara yang tertentu dalam suatu ’hubungan segitiga”, dimana terdapat ”ko-eksistensi” antara allah, manusia dan sesama manusia. Etika Individual dalam arti yang khusus tidak ada.
Penulis lain membagi bahan-bahan etika dalam suatu ”Bagian Umum dan ” Suatu bagian Khusus”.

Friday, September 4, 2009

How Leaders Make Big Issues Personal (and Possible)

September 9 looms as President Barack Obama's next big moment. That evening he will address a joint session of Congress to lay out his argument for health care reform. A recent CBS News poll showed that some 67% of Americans surveyed are confused about what reform means and what it will entail. Hence a mixture of fact and fiction, rumor and innuendo, have filled the air.

So as the President huddles with his speechwriter to determine exactly what to say and how to say it, he would do well to recall the example of Winston Churchill. As Oxford philosopher Isaiah Berlin wrote in Mr. Churchill in 1940, "The Prime Minister was able to impose his imagination and his will upon his countrymen. . .and lifted them to an abnormal height."

Furthermore, and here's the key point, Churchill made the British people feel as if they were part of the action and vital to the cause of victory. Churchill gave voice to personal involvement, or what we might today call "engagement." That is the challenge that every leader faces when pushing a significant change initiative.

1. Inform. Explain the situation in terms that are both general and specific. Generality provides context; specifics provide expectations. For example, make the case for your initiative, ask people to support it, and tell them why.

2. Involve. Once people understand the facts as well as what is expected of them, they decide to participate or not. Critical to gaining commitment is communicating "what's in it for me" (WIFM). You must make the specifics clear, and show what people will gain by supporting your initiatives.

3. Invite. Once people understand what is expected of them, ask for their support. Never assume people will follow you until you ask them. Be specific and persistent as in, "Can I count on your support for this initiative?"

4. Ignite. This final step is not always possible but it's one that separates the ordinary from the extraordinary. It is when you invoke, as Churchill did, the commitment of individuals to pull together for a cause greater than themselves. Excite the imagination by talking about what will happen when your initiative is a success.

Keep in mind that these steps are dynamic. That is, a leader can move from one to another and back again to inform, understand, and push for commitment. It is a fluid process that requires a combination of will, patience, and fortitude to execute.

One further point: never assume that once people buy into the process, and understand the WIFM, that you can stop communicating. That was the genius of Churchill. His speeches throughout the war years were designed to rally the British and they did that through his use of a brilliant combination of rhetoric and storytelling. Churchill made his followers feel vital to the cause.

That is the challenge facing any leader pushing through a significant change initiative. Make people feel as if they have a role to play and know why their participation matters. Asking people to become involved was how the Obama campaign built its network of supporters. What happens on September 9 will determine if he and his team can turn that support into action.

sources:
blogs.harvardbusiness.org

Leadership Development

Leadership Development is any activity that enhances the quality of leadership within an individual or organization. That’s a wide ranging definition to suit an extremely wide ranging subject.I’m not an organisation. I’m an individual. How can I improve my leadership skills?

Like many things in life – if you look in the right places, you’ll always be able to find a great resource for a bargain. Leadership development is completely intertwined with the idea of self-investment. All excellent leaders regularly invest in themselves – sometimes to great expense. But if you follow our guidance, you’ll be able to build your skills for the minimum cost.

Leaders have often sought out useful leadership books and learning material that will help them along the path to happiness and leadership. These days – book shops are filled to the brim with self help and personal development books. Unfortunately, leadership and management books are usually the most expensive breed of personal development book.

Gain valuable knowledge & leadership secrets to become a Leadership Expert
Grab the best leadership tools before your competitors do!

Thursday, September 3, 2009

Why Dad's Parenting Technique Can Be Better

Why Dad's Parenting Technique Can Be Better
By Emily Bloch,


Remind him that he's Mr. Efficient at work; this might ramp up his enthusiasm for household management.

"My husband has a 6-year-old from a previous marriage. I gave birth to our son last month. He thinks he knows everything about babies. How do I get him to quit comparing?" - Parenting.com
When my husbands home, my 8-month-old wants nothing to do with me. It breaks my heart that he prefers his dad to me. Am I doing something wrong? - Parenting.com
It's right before bedtime and Sylvia is about to flip out about something - that a page of her picture book is "broken" (read: torn, by her, days before) and that she can't have three more handfuls of popcorn after we said "one more." Before I have a chance to ask, "What's wrong, Syl?" my husband walks up behind her, lifts her up into his arms, and carries her over his shoulder.
"MAMA! NO! Mom-me-ee-ee!!!" she yells, upside down.
My eyes are shooting darts at Aron's back. By surprising her from behind, he's made it worse. He just barrels on in, not giving her a chance to calm down. Now she's never going to go to sleep. It's just so -
And then, from upstairs, giggling. And then, the low murmur of story reading. And then, silence. And then a triumphant husband, breezing down the stairs, as if it were all a bunch of nothing. "What a sweetie she is," he says.
I learn this lesson at least once a week: I confuse Aron's parenting style with being "wrong." I apparently think, especially in my weaker moments, that he should do exactly as I do. But his way often works just as well as mine - if not better.
And then I'm stuck in a brutal twist: If I thought he was wrong and his approach worked, does that mean he's right? And that would make me...
Of course, this train of thought is likely to take me nowhere fast. "It's not about copying your partner's style or his copying yours," says Rona Renner, host of the radio show Childhood Matters and a mom of four kids. "It's about appreciating the way he's different from you."
So while we're not advising you to become clones of your partners, we do think dads often have some good tricks up their sleeves. Why not celebrate what they do right - and maybe even try one of these tips yourself.
Lets kids take risks
"Our girls' adventures are incomprehensible to my wife," says Will Craig of New York City, dad of 4-year-old Radia and 2-year-old Lela. "She'll ask, 'Why did you climb the fence?' The answer is 'Because it's there.' I've always felt the girls need to try things. That doesn't mean I let them burn themselves on the stove, but if Lela is trying to stand up on her toddler chair to reach something and it's about to topple, I might let her feel that balance start to go before I pull her off."
Why moms are different: Renner has a theory about why many mothers tend to flinch when their kids are on the monkey bars: "Moms form a protective attachment to their babies during pregnancy, when we're so focused on having a healthy and safe child that we give up all sorts of risky behavior ourselves. I think some of the instinctive protectiveness comes from this."
"If kids don't experience somewhat risky physical fun, it might make them more cautious and less willing to try things they haven't quite mastered yet," says Kyle Pruett, Ph.D., a clinical professor of child psychiatry at Yale University and author of Fatherneed: Why Father Care Is as Essential as Mother Care for Your Child. "You have to fall down in order to learn to ice-skate. If you're afraid of falling down, you won't learn."
Dealing with the difference: Tolerate only what you're comfortable with. But when I see Sylvia playing with Aron or running around outside, I try to ask myself: Is she really in danger, or is it just hard for me to watch? Would a stumble from where she is truly harm her, or just hurt a little bit?
Or do as my friend Laurie does and remove yourself from the situation. For instance, when she and her family are at the beach, she literally turns her chair around to face away from the water because although she knows her kids are safe with their dad, it makes her nervous to watch them play in the waves.

Baffling Kid Behavior

Behavior
Baffling Kid Behavior -- Explained
Why they say one thing and then do another -- and how to know what they really want
By Alix Finkelstein, Baby Name Tool Data Set

Eliot Peitso of Charlestown, Massachusetts, was desperate to get outside. Or so he said. "Out! Out!" he yelled. His mom, Jennifer Johnson, rushed to get ready. Diaper bag packed, house keys located, toys and snacks stuffed into the stroller, she opened the door and had just stepped out when, suddenly, 20-month-old Eliot burst into tears and demanded to stay inside. Did he change his mind? Not exactly. Crossing the threshold again, Eliot wailed louder: "Out! Out!"
"So there I was," Johnson says, "bringing him back in, taking him out again -- which drove us both crazy!" Surely Eliot didn't want to spend the morning stuck in a doorway. In fact, after his mom finally got him out of the house, with tears streaming down his face, he began bouncing up and down in excitement only a block later.
Kids are a bundle of contradictory impulses. Adults are, too, sometimes: "I am so not hungry for dessert," we may say, even as our fork is poised to spear a generous bite of cherry pie. But why do children so often say the exact opposite not only of what they mean but of what they want or need? A little boy, his legs twisted more tightly than a braided loaf of challah bread, insists "I don't need to go!'"
A little girl who could talk of nothing else but her best friend's birthday party awakens that morning and announces: "Parties are dumb. I'm staying home!"
"Our kids aren't out to get us," says Mary Sheedy Kurcinka, author of Kids, Parents, and Power Struggles: Winning for a Lifetime. "Paradoxical behavior like this often happens because a child's feelings are in conflict with his needs, but he hasn't learned how to express either yet. Our job is to figure out what those feelings and needs really are and to help our kids voice them." The most common ways children sabotage themselves, and how we can help:

AdSense